Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Efisiensi Waktu

IMG_0144

Oleh: Bukhari Ibrahim

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Al Ashr ayat 1-3)

Imam Syafi’i dalam menyikapi ayat diatas beliau berkata, “Seandainya manusia memahami ayat ini cukuplah agama ini baginya…” Maksud dari perkataan beliau adalah surat ini merupakan intisari bahwa hidup adalah kumpulan waktu. Yang tidak mampu menggunakan waktu dialah orang yang dijamin bakal merugi, tak ubahnya seperti orang yang sudah mati. Keberadaannya seperti tak ada, karena tidak mempunyai mamfaat bagi orang lain.

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: ”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali-Imran: 133). Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan, bersegera menuju ampunan Tuhan berarti bersegera melakukan perbuatan yang dapat menutup dosa, yaitu mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Rasulullah SAW mengumpamakan waktu seperti sebilah pedang. Pedang merupakan sesuatu yang berguna sekaligus berbahaya. Apabila kita tidak bisa menggunakannya, maka dia yang akan memotong kita. Semenit saja kita terlena dengan membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa sesuatu yang berarti di dalamnya, berarti kita tidak menghargai umur yang dikaruniakan oleh Allah SWT.

”Apabila engkau berada pada petang hari, janganlah mengulur-ulur urusanmu sampai besok, dan apabila engkau berada di pagi hari, jangan menunda urusanmu sampai petang. Ambillah kesempatan waktu sehatmu sebelum datang sakit, dan kesempatan hidupmu sebelum matimu.” (HR Bukhari).

Dari sabda Rasulullah SAW di atas, kita dapat memahami bahwa mengulur-ulur waktu, menunda pekerjaan dan menyia-nyiakan kesempatan sangatlah bertentangan dengan ajaran Islam. Karena perbuatan demikian dapat membuat Umat Islam tertinggal dan lemah. Umar bin Abdul Aziz mengatakan waktu adalah momentum untuk berprestasi. Saat beliau diangkat menjadi khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik. Dengan niat tulus dan suci, dengan jiwa yang kokoh dan bersih, dengan tekat yang membara, ia pikul kekhalifahan yang ia rindukan, ia mengatakan, “Aku akan duduk di sebuah tempat yang tidak kuberikan sedikit pun tempat untuk Syaitan.” Begitulah komitmen umar terhadap efisiensi waktu.

Musibah selalu datang menjenguk manusia dan sejarahnya. Takdir kemanusiaan memang berputar antara kebahagiaan dan penderitaan. Kalungan derita tidak mesti menjadi urutan terakhir saat kebahagiaan dan kesenangan telah di cecap. Pun ketika penderitaan dan musibah menjelang dan berjalan, sebersit kebahagiaan belum tentu memberi jawaban yang menutup secara setimpal rasa sakit dan lelah akibat derita yang telah di rasakan.

Empat tahun sudah bencana besar itu berlalu, namun bayang-bayang kesedihan masih segar teringat di pikiran kita. Empat silam emosi kita di kuras oleh pemandangan mengenaskan, ratapan pilu bagi semua orang, ratapan yang merupakan ungkapan kerinduan untuk menghadirkan kembali kekasih hati. Perpisahan yang amat menyengsarakan, meninggalkan kekosongan batin yang tak tergantikan.

Gempa dan itu pula yang memorakporandakan tanah kelahiran kita. Kedahsyatan berkali-kali lipat, kota Banda Aceh hancur lebur oleh tsunami, ratusan ribu orang meregang nyawa. Seolah ini hanyalah sebuah reality show, namun inilah kenyataan yang mau tidak mau harus kita hadapi. Begitu dahsyatnya dampak yang di akibatkan sehingga menyentuh nilai-nilai dasar kemanusiaan. Kepekaan sosial muncul tanpa ada yang di komandoi, solidaritas sosial terbangun secara menakjubkan, bantuan datang berbondong-bondong dari berbagai belahan negara.

Bukan hanya kita rakyat aceh yang menanggung kesedihan itu, tetapi banyak sahabat-sahabat kita, teman-teman kita, tidak pernah henti-hentinya menguras air mata mereka, seakan-akan air mata itu tidak bisa mengering di pipi melihat aceh yang hancur lebur di sapu bersih oleh air bah yang ganas itu. Betapa mulia niat mereka yang selalu ingin membakar semangat anak-anak Aceh untuk terus maju, bangun dari keterpurukan yang telah lalu, untuk menghapus air mata yang terus saja berlinang mengisi hari demi hari.

Gejolak perasaan, nurani, dan kesadaran manusia saat itu larut dalam duka, kepedihan dan keprihatinan mendalam akibat gempa dan tsunami yang membuat mereka hilang arah untuk berjalan dan terhapusnya asa yang membumbung tinggi. Citra dari mayat-mayat yang bergelimpangan yang tidak dapat di hiraukan lagi, ibu-ibu histeris, anak-anak yang kehilangan orang tuanya, orang tua yang putus asa, bayi-bayi yang tersangkut, tubuh-tubuh tersayat, jerit tangis menyayat hati yang ketika itu yang ketika itu sudah menjadi pemandangan yang biasa-biasa saja. Betapa Acehku di banjiri air mata duka lara yang sangat mendalam.  Kegetiran hati kian lengkap saat melihat wajah-wajah sedih dan tanpa pengharapan duduk di barak-barak dengan tatapan mata kosong. Mereka adalah warga yang selamat,tetapi telah kehilangan segalanya, orang tua, saudara, teman, anak, dan harta mereka.

Kota banda Aceh saat itu tidak ubahnya dari sebuah kota mati karena jaringan telekomunikasi terputus, jaringan listrik lumpuh, sampah menggunung, bangkai binatang berserakan, dan mayat-mayat manusia masih bertebaran di mana-mana. Masih di tambah “kematian” hati para korban yang selamat, yang terlukis jelas lewat jerit tangis, teriakan histeris, dan wajah muram putus asa.

Allah sedang menguji kita, di mana dulu kontribusi kita pada perjuangan kemerdekaan dan pembentukan Negara Keastuan Republik Indonesia amat besar. Belandapun mengalami kesulitan menaklukkan rakyat Aceh yang berani dengan harga diri yang sangat tinggi.

Namun, setelah merdeka, kegagahan dan kekayaan rakyat Aceh justru hancur oleh pemerintahannya sendiri. Tuhan Maha Kasih dan Maha Mendengar jerit tangis terdalam rakyat Aceh. Tuhan tahu kelelahan dan keputusasaan rakyat Aceh. Rakyat Aceh perlu di pahami, di perhatikan, dan di peluk dengan hangat dan tulus sebagai saudara kandung yang sah dan terhormat dari bangsa Indonesia. Tangisan itu sudah lama di teriakkan, tetapi Jakarta tidak mendengarkan sungguh. Air mata rakyat Aceh telah mengering, sementara penderitaan terus saja berkelanjutan.

Ribuan nyawa melayang oleh peluru yang di muntahkan oleh sesama anak bangsa. Kekhusyukan beribadah dan ketekunan mencari ilmu yang menjadi etos orang Aceh hampir hilang karena tidak adanya stabilitas poiltik, keamanan, dan okonomi. Dan ketika pemerintah pusat maupun daerah bertahun-tahun tidak mampu mengatasi derita mereka, Tuhanpun bertindak dengan cara-Nya sendiri, yang secara lahiriah sulit di pahami karena menggunakan logika paradoksal. Hanya dalam hitungan menit, seluruh skenario yang di buat para politisi berantakan di gilas tsunami yang menawarakan proposal Tuhan untuk kita yang masih hidup. Anak-anak bersama orang tuanya di jemput oleh kereta kencana tsunami untuk di boyong ke syurga, berkumpul dengan para syuhada pejuang kemerdekaan yang lebih dahulu tinggal di sana.

Sementara mereka dan kita yang masih hidup memperoleh tugas mulia untuk merancang skenario baru bagi masa depan Aceh yang damai, makmur, berdaulat, religius, dan berkeadaban. Kita semua merindukan kejayaan Aceh di masa lalu sebagai pusat peradaban untuk di rekonstruksi kembali. Bukankah julukan Serambi Mekkah merupakan kebanggaan, prestasi, dan sekaligus amanah yang harus di jaga dan di pertahankan, bukannya sebagai onggokan meseum warisan masa lalu !!!

Badai pasti berlalu

Kematian menjadi pengalaman menakutkan, tubuh busuk dan hancur menjadi pengalaman mengerikan. Terpisah selamanya menjadi pengalaman menggelisahkan. Seorang filosofi terkenal Schopenhauer mengatakan “we abhor death, an as nature does not lie and the fear of the death is the voice of nature, there must yet be some reason for this”. Kematian adalah kenyataan tak terelakkan, pada saatnya tiap orang akan menghadapi kematian. Dengan demikian kita dapat merenungkan kematian saudara-saudara kita sebagai sebuah pesan. Kematian dalam kehidupan, itulah pesan yang harus di pegang.

Musibah tsunami ini tidak saja menawarkan proposal baru bagi warga Aceh, tetapi juga bangsa Indonesia. Dari aceh kembali muncul panggilan dan derap kemanusiaan sebagaimana pernah mereka kumandangkan dengan berani oleh para syuhada Aceh abad lalu, yang membuat tentara Belanda bergetar dan lari pontang-panting. Kini panggilan perjuangan para pahlawan itu di teriakkan kembali melalui amukan dahsyat itu, saat kita tidak bisa lagi mendengar dengan bahasa yang halus, bahasa nurani. Bangsa ini telah terbius oleh gemerlap materi dan kesenangan sesaat. Banyak di antara kita ramai-ramai berebut jabatan dan popularitas, dengan melupakan panggilan Allah, kemanusiaan dan perdamaian. Semoga damailah para syuhada Aceh. Kita selalu berharap agar politisi, pejabat negara dan semua elemen masyarakat mampu membaca, melihat, dan mendengar dengan hati bening akan surat cinta Tuhan yang tertulis dengan bahasa kemarahan alam agar kita menjadi arif, rendah hati, dan selalu sujud pada-Nya, bukan pada ego pribadi yang di proyeksikan dalam bentuk kerakusan dan ketamakan.

Ya Allah Tuhan semesta alam, dalam genggaman-Mu hidup dan masa depan kami, bahkan seluruh alam semesta ini. Hanya dengan memerintahkan sebagian kecil dari laut-Mu untuk bertandang ke daratan, sungguh tak kuasa kami menahannya dan betapa tak berdayanya kami menghadapinya. Di balik kesombongan kami, betapa sesungguhnya lemah dan rapuhnya kami. Andaikan separuh air laut Engkau tumpahakan, andaikan separuh gunung yang ada di nusantara Engkau perintahkan meletus, andaikan sebutir planet Engkau instruksikan jatuh ke bumi, andaikan suhu panas matahari Engkau lipat gandakan, bahkan jika Engkau perintahkan langit-Mu menghujam ke bumi, kami tidak akan pernah kuasa mencegah-Mu karena semua ini hanyalah milik-Mu.

Ya Allah, berilah kami kekuatan untuk menerima ujian-Mu, anugerahkanlah kami kebijakan dan kelapangan untuk bisa menerima pelajaran dari-Mu. Karena dengan demikian kami akan bisa menata kembali bumi Aceh ini untuk terus berjaya layaknya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Sinarilah hati dan pikiran kami dengan cahaya kasih-Mu agar kami mampu menjalani hidup dengan penuh harap dan senantiasa cinta perdamaian.

E-mail  :  ifan_thebest@yahoo.co.id

Secangkir Sirup Lebaran…

Kalau kita menyorot dan merenung agaknya, ada sedikit yang ganjil dalam Perayaan lebaran Idul Adha kali ini dengan perayaan tahun2 sebelumnya. Hari raya kurban kali ini berlangsung di tengah situasi krisis global yang terasa sangat berat bagi sebagian orang. Beberapa media menulis bahwa karyawan yang terancam terkena PHK seluruh Indonesia akhir tahun ini bisa mencapai 60.000 orang, angka yang sangat besar tentunya. PHK dilakukan oleh perusahaan yang sebagian besar bisnisnya berhubungan dengan ekspor impor. Harga dolar yang melangit menjadi salah satu penyebab.

Angka kemiskinan mungkin bakal bertambah. Entahlah bagaimana nasib yang terkena PHK. Sebagian mungkin cari kerja seadanya, sebagian menjadi wiraswasta, dan sebagian yang lain menjadi pengangguran. Mungkin ini semua adalah suatu ujian…

Tentu, setiap Insan pasti pernah merasakan ujian. Mungkin ini sungguh berat. Tapi sebenarnya juga masih banyak yang jauh lebih berat, nasibnya lebih mengenaskan ketimbang kita. Coba kita melirik Para Nabi dan Rasul, mereka berani mengorbankan segalanya demi cintanya kepada Allah dengan menyebarkan risalahnya. Ibrahim menerima ujian bertubi tubi, salah satu yang paling berat adalah perintah menyembelih anaknya satu-satunya yang paling beliu cintai. Kemudian Allah menggantinya dengan kambing dari surga, karena Ibrahim telah lulus ujian berkorban.
Islam telah menyusun dan mengatur tatacara berkorban dengan kemasan yang sempurna supaya kita memahami pengajaran di sebalik peristiwa agung tersebut. Falsafah daripada pensyariatan ibadat ini nanti akan mengekalkan ingatan kita kepada lambang cinta agung Nabi Ibrahim yang mengorbankan puteranya Nabi Ismail demi cinta dan taqarrub mereka kepada Allah s.w.t.

Saat ini, muslim yang sudah mampu menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Semoga saudara kita di sana menjadi haji mabrur, dan doa mereka untuk Bangsa ini semoga terkabul. Kemudian umat Islam yang di sini, yang merasa mampu, juga ikut berkurban menyumbangkan kambing atau sapi yang dagingnya dibagikan kepada sesama.

Semoga momen Idul Adha seperti ini kembali mengingatkan kita akan pentingnya menjaga ukhuwah, tali silaturahmi, meningkatkan kepedulian antar sesama. Kita bisa bahu membahu, bekerja sama, bersinergi sehingga Islam bisa semakin kokoh bersatu, Indonesia juga bisa terus bangkit dengan kekuatan swadaya, tanpa bantuan dari asing. Semangat Wirausaha sepertinya perlu kita tumbuhkan lagi pada generasi muda bangsa ini, karena dengan tumbuhnya semangat wirausaha tidak bergantung hidup pada orang lain, akan semakin mempercepat pertumbuhan suatu negara..
Ada sedikit kabar dari beberapa pakar ekonomi, ekonomi konvensional yang berlandaskan pada sistem ribawi, ternyata banyak memiliki kekeliruan dan kesalahan dalam sejumlah premisnya, terutama rasionalitas ekonomi yang telah mengabaikan moral. Para pakar ekonomi seperti Fritjop Chapra dalam bukunya, The Turning Point, Science, Society and The Rising Culture (terj. 1999) dan Ervin Laszio dalam 3rd Millenium, The Challenge and The Vision (terj. 1999), mengungkapkan bahwa kelemahan dan kekeliruan itulah yang antara lain menyebabkan ekonomi (konvensional) tidak berhasil menciptakan keadilan ekonomi dan kesejahteraan bagi umat manusia.

Tapi jangan pesimis, kebangkitan n kemajuan bangsa ini sudah semakin terlihat, itu terbukti dengan maraknya dari non muslim yang merujuk ke ekonomi syariah, dan banyaknya bank umum yang dulunya konvensional sudah beralih dan membuka unit usaha syariah,mungkin itu hikmah di balik krisis keuangan global yang membawa angin segar sehingga banyak berlabuh di bank syariah, ternyata perbankan syariah adalah perbankan yang tahan banting di tengah krisis keuangan global,, smg perkembangan yang menggembirakan ini dapat membawa angin segar bagi kita semua…Amin..
Wallahu’alam bissawab..

Apa Kabar Mutiaraku

Abdullah RA mengabarkan bahwa suatu ketika Ummu Habibah, isteri Nabi SAW berdoa, “Ya Allah panjangkanlah usiaku bersama-sama suamiku Rasulullah SAW, serta dengan ayahku Abu Sofyan dan saudaraku Mu’awiyah”. Muhammad Rasulullah SAW bersabda, “Engkau memohon ajal yang sudah pasti (tak dapat diubah). Memohon jumlah hari yang sudah ditetapkan hitungannya, serta rezeki yang sudah dibagi-bagi yang tak dapat disegerakan sebelum tiba waktunya, dan tak dapat diundur sedikitpun dari waktu yang telah ditetapkan.

Seandainya engkau memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari siksa neraka atau siksa kubur, itu lebih baik dan lebih bagus”. (HR Muslim).

Kematian memang pasti akan datang kepada semua makhluk. Kita tidak dapat bersembunyi dan tidak pula dapat menghindarinya. Betapa usia seseorang tidak dapat diduga. Seperti yang telah terjadi pada anak pertama kami sepuluh tahun silam. Bayi pertama kami memang lahir tanpa sempat menghirup udara dunia. Tepat di hari Jumat bulan ke enam sepuluh tahun lalu, saat adzan dhuhur berkumandang kami harus mengikhlaskan kepergiannya. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Seandainya saja aku bisa mengirim surat kepada mutiaraku di alam sana, tentu aku akan menuliskan berlembar-lembar surat sebagai pelepas rindu…

Wahai mutiaraku, bagaimana kabarmu? Bunda minta maaf karena bunda tidak dapat membesarkanmu. Bahkan saat kau lahir, bunda tidak memiliki keberanian untuk melihatmu, menyentuhmu, memelukmu, mencium pipimu, mengantarkanmu ke pemakaman. Saat itu bunda masih sangat lemah setelah melahirkanmu. Bunda hanya sempat berpesan kepada ayahmu untuk mengambil foto-foto wajahmu yang cantik agar suatu saat bunda bisa menatapmu kapanpun bunda mau.

Dokter bilang saat kau lahir lehermu terlilit tali plasenta. Dan karena kau sangat aktif, maka plasenta itu terputus. Maafkan bunda, sayangku. Dokter dan bunda sudah berusaha agar kau selamat. Tapi Allah SWT ternyata berkehendak lain. Seberapapun usaha bunda yang tidak pernah lalai memeriksakan diri ke dokter, kalau Allah sudah berkehendak bahwa umurmu tidak panjang, ya bunda harus ikhlas. Karena kau adalah titipan-Nya.

Mutiaraku, banyak sekali teman-teman bunda yang datang ke rumah sakit untuk menengok dan menghibur bunda ketika kau lahir dan tiada. Semua memberi ucapan belasungkawa dengan diiringi derai air mata. Saat itu rasanya masih mimpi. Saat masuk ke rumah sakit bunda masih membawamu walau di dalam perut, namun keluar dari rumah sakit bunda harus pulang ke rumah tanpa menggendongmu.

Sewaktu di rumah sakit setelah melahirkanmu, sempat bunda tersinggung karena ada seorang perawat yang baru berganti tugas jaga, menyindir bunda kenapa bunda tidak mau menyusuimu? Heran, kenapa dia tidak mau melihat dulu catatan pasien dan menjaga perasaan pasiennya? Tapi tentu bunda harus memaklumi ketidaktahuannya.

Kakek dan nenekmu semua datang menjenguk ke rumah sakit dan menahan tangis saat melihat bunda. Cucu yang sudah dinantikan mereka untuk ditimang hanya tinggal impian. Namun bunda tidak mau menambah kesedihan mereka. Bunda harus bisa tegar karena ini adalah takdir Illahi.

Di rumah, kamar yang sudah bunda siapkan untuk menyambut kehadiranmu menjadi saksi hampa. Tempat tidur kecil, baju-baju mungil, selimut, popok, mainan sudah dilipat rapi dan dikemas oleh ayahmu agar bunda tidak melihat barang-barang itu sepulang dari rumah sakit. Biarkanlah bunda pulang ke rumah dengan suasana seperti biasa.

Seperti yang tidak dalam rangka menyambut tamu istimewa datang ke rumah. Agar bunda bisa mengobati kepedihan yang ada di dalam dada. Baru dua bulan setelah kau lahir, bunda memberanikan diri untuk melihat foto-fotomu. Wajahmu yang putih bersih tampak sangat damai dibalut kain kafan putih. Dari foto itu pula tampak bahwa ayahmu sendiri yang menggendongmu di sepanjang perjalanan menuju ke tempat pemakaman. Kemudian berjalan kaki bersama pelayat lain menuju ke tanah yang sudah digali untuk memakamkanmu.

Mutiaraku, ingin rasanya bunda menitipkan salam buatmu lewat malaikat. Bukankah malaikat malam dan siang selalu bergantian tugas di waktu ashar dan subuh dan selalu pulang balik langit dan bumi? Suatu saat nanti kau akan diasuh oleh Nabi Ibrahim AS bersama teman-teman kecilmu yang lain. Teman-teman yang masih suci dari dosa-dosa dunia. Kau bisa menikmati indahnya surga.

Sesungguhnya dia (Muhammad SAW) bersabda di sejumlah mimpinya, pada waktu beliau melewati seorang kakek di bawah pohon dan di sekitarnya anak-anak. Maka berkata (Jibril) kepada Rasulullah, ini adalah Ibrahim AS dan mereka anak-anak orang muslim dan anak-anak orang musyrik. Mereka (para sahabat) berkata, ya Rasulullah dan anak-anak orang musyrik? Berkata, ya anak-anak orang musyrik.

Mutiaraku, nabi kita Muhammad SAW pernah bersabda bahwa di dalam surga itu terdapat kamar-kamar atau gedung-gedung yang bagian luarnya dapat dilihat dari bagian dalamnya. Demikian juga bagian dalamnya dapat dilihat dari bagian luarnya……

Juga disediakan buat orang mukmin sebuah kemah yang terbuat dari mutiara berlubang yang panjangnya enam puluh mil. Surga yang penduduknya tidak pernah sakit selama-lamanya. Selalu hidup dan tidak pernah mati selama-lamanya. Selalu merasa nikmat dan tidak pernah sengsara selama-lamanya… …

Muhammad Rasulullah SAW juga bersabda bahwa dalam surga terdapat sebuah pasar yang didatangi penduduk surga setiap hari Jum’at. Angin bertiup dari sebelah kanan menyapu wajah dan pakaian penduduknya, yang menyebabkan wajah mereka bertambah cantik dan tampan. Pakaian mereka pun bertambah indah…..

Ah pasti kau akan bahagia sekali di sana kelak. Bunda tidak dapat membayangkan seperti apa wajah surga yang indah itu. Akal manusia tidak mampu melukiskan karya-Nya yang Maha Agung.
Mutiaraku, bunda di sini senantiasa mendoakanmu. Mudah-mudahan bunda tidak memberatkanmu saat kau akan membela bunda di akhirat nanti……

Dan berikanlah berita gembira kepada, orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah: 155-157) Safar 1429H

Oleh Delina, sumber : eramuslim.com

Urgensi Pendidikan

Oleh : Bukhari Ibrahim Caleue

“Jika ingin kemakmuran 1 tahun, tumbuhkanlah benih. Jika ingin kemakmuran 10 tahun, tumbuhkanlah pohon. Jika ingin kemakmuran 100 tahun, tumbuhkanlah (didiklah) manusia.” Konfusius (551 SM-479), Cina

Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Uda, Rasulullah memerintahkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina. Ini merupakan indikasi nyata urgensi pendidikan dalam Islam. Ketika Rasulullah menganjurkan untuk belajar sampai ke negeri Cina tentu bukan harus belajar tafsir di sana, sebab bukan tempatnya. Begitu juga di Cina bukan tempat untuk belajar shalat ataupun menunaikan zakat. Cina pada zaman Nabi Muhammad SAW, 14 abad silam, adalah negara yang sudah maju dalam ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan perdagangan. Sehingga, Rasulullah menyuruh umatnya untuk belajar teknologi, perdagangan, dan industri sekalipun kepada orang yang berbeda keyakinan. Begitu istimewanya pendidikan dalam islam sampai diperbolehkan oleh Rasulullah untuk iri kepada mereka.

Aktifitas Pendidikan telah dan akan terus berjalan semenjak manusia pertama ada di dunia sampai berakhirnya kehidupan di muka bumi ini. Bahkan kalau ditarik mundur lebih jauh lagi, kita akan dapatkan bahwa pendidikan telah mulai berproses semenjak Allah swt. menciptakan manusia pertama Adam di surga dimana Allah telah mengajarkan kepada beliau semua nama-nama yang oleh para malaikat belum dikenal sama sekali (QS Al Baqarah: 31-33).

Semenjak manusia berinteraksi dengan aktifitas pendidikan ini semenjak itulah manusia telah berhasil merealisasikan berbagai perkembangan dan kemajuan dalam segala lini kehidupan mereka. Bahkan pendidikan adalah suatu yang alami dalam perkembangan peradaban manusia.

Dan secara paralel proses pendidikan pun mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dalam bentuk metode, sarana maupun target yang akan dicapai. Karena hal ini merupakan salah satu sifat dan keistimewaan dari pendidikan, yaitu selalu bersifat maju (taqaddumiyyah). Sehingga apabila sebuah pendidikan tidak mengalami serta tidak menyebabkan suatu kemajuan atau malah menimbulkan kemunduran maka tidaklah dinamakan pendidikan. Karena pendidikan adalah sebuah aktifitas yang integral yang mencakup target, metode dan sarana dalam membentuk manusia-manusia yang mampu berinteraksi dan beradabtasi dengan lingkungannya, baik internal maupun eksternal demi terwujudnya kemajuan yang lebih baik.

Sebagai contoh nyata dari argumen di atas dapat kita lihat dari dua kenyataan berikut:

Pertama, ketika Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar angkasanya yamg pertama spotnic pada 4 oktober 1957, Amerika Serikat tergoncang dengan dahsyatnya. Demam spotnic melanda seantero Amerika. Betapa tidak, karena Amerika adalah negara besar pemenang perang dunia II telah kedahuluan oleh Uni Sovyet. Sampai-sampai presiden AS ketika itu membentuk tim khusus untuk merespon kejadian besar ini. Tim tersebut bukan bertugas menyelidiki kenapa Uni Sovyet berhasil mendahului mereka dalam meluncurkan pesawat luar angkasa, melainkan mereka mendapat intruksi lansung dari presiden untuk melakukan suatu tugas yang tidak disangka-sangka oleh para pengamat politik waktu itu.

Tugas mereka adalah meninjau kembali kurikulum pendidikan AS mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Dengan bekerja keras dan dalam waktu yang singkat tim tersebut berhasil mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa kurikulum pendidikan AS dari semua jenjang pendidikan sudah tidak layak lagi dan harus direvisi. Sebuah keputusan yang teramat berani waktu itu. Tapi itulah sebuah konsekuensi kalau hendak berkompetisi dalam kemajuan peradaban.

Amerika pun mulai melakukan pembaharuan pendidikan dalam segala segi dan dimensinya. Mulai dari kurikulum, mata pelajaran, tenaga pengajar, sarana pendidikan sampai kepada sistem evaluasi pendidikan. Usaha mereka dengan sangat cepat membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Pada tanggal 14 juli 1969 mereka berhasil meletakkan manusia pertama di permukaan bulan. Hanya dalam kurun waktu 12 tahun mereka berhasil mengungguli teknologi Uni Sovyet. Waktu yang relatif singkat, kurang dari masa pendidikan seorang anak dari tingkat dasar sampai jenjang perkuliahan.

Hasil lain dari itu tentunya dapat disaksikan oleh dunia semuanya dimana AS sekarang telah menjadi kekuatan tunggal setelah runtuhnya US.

Kedua, kejadian yang hampir serupa sebenarnya pernah terjadi di Jepang seusai kekalahan mereka dalam perang dunia II dengan dibom atomnya kota Hiroshima dan Nagasaki. Jepang praktis lumpuh dalam segala segi kehidupan. Bahkan kaisar Jepang waktu itu menyatakan bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali tanah dan air. Belum lagi hukuman sebagai orang yang kalah perang yang melarang Jepang untuk membangun angkatan bersenjata. Semua itu merupakan hambatan yang sangat besar untuk dapat bangkit dan membangun sebuah peradaban baru. Tapi perkiraan akal manusia tidak selamanya benar. Jepang bangkit perlahan-lahan dengan memperbarui sistem pendidikan mereka dalam semua jenjang pendidikan.

Untuk membangun sistem pendidikan yang berkualitas dunia, jepang segera mendatangkan pakar-pakar terbaik dan guru-guru dari seluruh dunia. Mereka diberikan jabatan yang tinggi dengan otoritas yang besar. Penghasilan yang diberikan kepada mereka pun sangat mahal. Para pengajar asing rata-rata di bayar 600 yen per bulan, padahal gaji rektor universitas Tokyo hanya 400 yen. Selain itu, Depetemen pendidikan juga mengirimkan banyak orang keluar negeri. Total anggaran yang di keluarkan untuk membayar orang-orang asing dan mengirimkan pelajar keluar negeri lebih dari 30% total anggaran pendidikan. Suatu jumlah yang sangat besar

Dalam masa yang relatif singkat Jepang berhasil membangun negara mereka menjadi negara yang kuat dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Bahkan merupakan negara ekonomi terkuat yang menjadi ancaman bagi AS sendiri. Coba kita bandingkan dengan Indonesia yang mulai membangun diri pada waktu yang sama dengan Jepang (kita merdeka 1945 dan Jepang di bom atom 1945). Jepang telah berlari jauh di depan, kita malah masih tertatih-tatih bahkan jalan di tempat dan kadang kala juga mundur ke balakang.

Contoh nyata dari kemajuan pendidikan di Jepang adalah berobahnya pengertian buta huruf dikalangan rakyat Jepang. Buta huruf yang sudah tidak ada lagi di Jepang mempunyai pengertian “tidak bisa menggunakan komputer”. Betapa jauhnya pengertian ini dengan pengertian aslinya di kalangan dunia ketiga, yang berarti tidak bisa tulis dan baca.

Menyimak hasil proyek peningkatan hasil penelitian terhadap persentase baca Manusia seluruh dunia, ternyata Jepang menduduki pada peringkat teratas. Hasilnya menyebutkan bahwa persentase rata-rata bacaan seorang laki-laki biasa yang bekerja di toko dan sebagai pekerja biasa di jepang adalah 40 buku dalam satu tahun. Sementara persentase rata-rata setiap orang ditengah masyarakat Eropa adalah 10 buku dalam setahun. Adapun persentase rata-rata bacaan setiap orang di Dunia Arab adalah sepersepuluh buku dalam setahun. Berarti, ia membaca 20 halaman dari buku yang jumlah halamannya sekitar 200 halaman dalam setahun.

Sementara itu hasil penelitian lain menyebutkan bahwa persentase baca setiap orang arab dalam skala internasional adalah seperempat halaman. Artinya nilai baca rata-rata setiap orang Arab dalam setahun jika di bandingkan dengan seorang pembaca dalam skala internasional tak lebih dari setengah jam. Mahasiswa di negara industri maju rata-rata membaca delapan jam per hari, sedangkan di negara berkembang, termasuk Indonesia, hanya dua jam setiap hari (UNESCO, 2005).

Jelas budaya baca berkorelasi positif dengan penguasaan iptek suatu bangsa. Semakin tinggi budaya baca, semakin maju bangsa tersebut.

Fenomena-Fonomena di atas merupakan gambaran nyata dari urgensi pendidikan yang telah dipahami dan diaplikasikan dengan baik oleh AS dan Jepang. Langkah yang mereka ambil telah membuktikan kepada dunia bahwa kemajuan pendidikan berarti kemajuan sebuah bangsa. Untuk maju, sebuah bangsa harus menciptakan percepatan kualitas intelektual manusianya. Manusia yang lebih cerdas akan menciptakan ilmu dan teknologi yang lebih maju dan pada akhirnya ekonomi, industri, dan militer akan lebih unggul. Dan untuk mencapai itu, sebuah sistem pendidikan berkualitas tinggi mesti harus di bentuk. Saya yakin, Indonesia sangat berpeluang untuk lebih maju, tidak mustahil bangsa kita akan lebih gemilang dari bangsa lain di dunia jika pemerintah kita memprioritaskan masalah pendidikan ini.

Rahasia kedermawanan

Oleh: Bukhari Ibrahim

 

“Perumpamaan mereka yang mendermakan hartanya dijalan Allah seperti (menanam) sebuah biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai(menumbuhkan) seratus biji; dan Allah selalu melipatgandakan kepada siapa saja yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (anugerah-Nya) lagi maha mengetahui.” QS al-Baqarah ayat 261

 

Dibalik kedermawan tersimpan berbagai rahasia penting yang sangat berguna, tidak hanya untuk di akhirat, bahkan juga untuk kesejahteraan kehidupan didunia. Jika anda makin ingin bertambah luas rejekinya, terhindar dari berbagai bahaya dan bencana serta terbebas dari berbagai macam penyakit, temukanlah empat rahasia dibalik kedermawanan.

 

Rahasia pertama dari kedermawanan adalah nilai balasan yang berlipat ganda. Namun, memegang rahasia ini bukanlah hal yang mudah. Menurut Abu Dzar Al-Ghifari ra., seorang tidak dapat bersedekah sebelum melepas belunggu tujuh puluh setan. Ibnu Abbas ra. Mengingatkan bahwa setan selalu mengecam dengan kemiskinan dan menganjurkan dengan berbuat keji dan kejahatan.

 

Siapa yang dapat melepas belunggu itu, maka dialah orang merdeka, hidup bahagia, dan dapat merasakan makna dari sabda Rasulullah saw. Derma itu bila keluar dari tangan pemiliknya, berkata ia dengan lima kalimat; semula aku adalah kecil, maka engkau telah membesarkanku; semula engkau adalah penjagaku, maka sekarang aku jadi penjagamu; semula aku adalah musuhmu, maka sekarang engkau mencintaiku; aku adalah sesuatu yang punah, maka engkau jadikan aku sesuatu yang kekal; aku adalah bilangan sedikit, maka engkau jadikan aku bilangan jumlah banyak.”

 

Rahasia kedua dari kedermawanan ialah terhindar dari bencana. Rasulullah saw. Bersabda, “sedekah itu menutup tujuh puluh macam bala dan bencana, yang paling ringan di antaranya ialah penyakit kusta dan penyakit kulit.”

 

Rahasia ketiga dari  kedermawanan adalah obat dari berbagai macam penyakit, dalam sebuah hadist rasulullah bersabda, “Obatilah orang-orang yang sakit dengan sedekah.” Hal ini menunjukkan bahwa di balik sedekah terdapat rahasia kesembuhan. Karenanya, orang-orang yang mengetahui rahasia ini memperbanyak sedekah ketika dirinya ataupun anggota keluarganya sedang sakit.

 

keempat rahasia di balik kedermawanan yang sering kali dilupakan, yaitu memelihara harta dari pencurian.. Orang yang rajin bersedekah dengan mendermakan hartanya di jalan Allah, tidak perlu khawatir dengan keamanan harta bendanya, Dia tak perlu khawatir akan kecolongan atau kehilangan. Karena “Semula engkau adalah penjagaku, maka sekarang aku menjadi penjagamu”. Yakinlah dengan kebenaran sabda Rasulullah saw. Insya Allah akan kita temukan rahasianya

 

pc230018.jpgOleh : Bukhari Ibrahim Caleue

Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagi orang-orang yang menginginkan Allah dan hari akhir” [QS.al-Ahzab: 21]

Sungguh  merupakan anugerah yang amat luar biasa saat hidup berselang empat belas abad yang silam, kita masih ditakdirkan sebagai seorang yang beriman. Mestinya kita dapat mengoptimalkan rasa syukur kepada Allah swt atas nikmat yang agung ini. Entah dengan apa kita dapat berterimakasih kepada Rasulullah saw sebagai pembawa risalah, kepada segenab sahabat serta ulama selaku pewarisnya, dan kedua orang tua yang telah membesarkan kita. Sebab tidak terbayang apa yang terjadi seandainya kita hidup di masa jahiliah. Adakah kita termasuk orang yang percaya terhadap risalah yang di bawa Rasulullah saw ataukah justru termasuk yang mendustakannya seperti kebanyakan orang saat itu? Hidayah memang otorita Allah swt semata! Namun banyak hal yang telah di jadikan sebagai perantara, dala’il dan syawahid.

Dalam catatan sejarah Rasulullah tidak pernah (secara tegas) memerintahkan sahabat atau umatnya untuk mencintai dirinya. Tetapi Allah swt senantiasa merangsang kita untuk selalu mencintainya dengan pengapdian diri mengikuti jejak langkahnya.  

Dalam QS. Ali Imran: 31 Allah berfirman, yang artinya: katakanlah, “jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku.”  Bahkan Allah memberikan ultimatum kepada mereka yang tidak betul-betul mencintainya dengan ancaman azab; katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, Istri-istri, dan kaum keluarga kalian; juga harta dan kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya.” Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS.at-Taubah:24).

Kecintaan kepada Rasulullah saw merupakan pantulan dari spektrum padang cinta maha luas terhadap Allah swt; suatu bentuk kecintaan struktural esensial yang mesti dijaga keberlangsungannya. Karena hanya dengan demikian tawajjuh cinta akan menggapai nilai suci keabadian yang transendental. Apa yang selama ini menjadi tradisi di kalangan umat muslim, khususnya di Indonesia, setiap bulan rabiul awal tiba mereka memperingati moment agung tentang kelahiran manusia paripurna Muhammad saw melalui lantunan aneka madah shalawat dan berbagai persembahan lainnya. Inilah salah satu wujud kecintaan dan wahana refleksi pengabdian diri kepada Allah dan RasulNya.

Bahkan, peringatan maulid yang dimunculkan pertama kali oleh seorang sufi pada abad keenam hijriah, Abu Hafsh Mu’inuddin Umar bin Muhammad bin Khadlir al-Irbili al-Maushili, juga teramat naif jika kita artikan hanya sekedar mentargetkan capaian-capaian pragmatis, hal-hal yang bersifat sementara, tanpa memiliki mamfaat yang permanen dan revolusioner. Tapi peringatan maulid yang menjadi pemandangan resmi setiap tahun, setidaknya di beberapa daerah di Indonesia, lebih menggambarkan sebagai ritual-seremonial yang kaku.

Kendati merupakan konstruksi tradisi yang cukup baik, namun tetap mengesankan tak ada maksud untuk mencapai tujuan secara optimal: meneladani perilaku Rasulullah saw secara total, kaffah.Penyampaian teks-teks sejarah secara oral, yang maksud utamanya tak dimengerti oleh sebagian pendengar, menyantap hidangan mewah yang kadang menjadi target utama, lalu selesai, tanpa ada tindak lanjut, atau paling tidak sedikit ‘perubahan’ pada beberapa aspek pola hidup, yang muncul sebagai atsar dari peringatan tersebut: mau dikatakan apa kalau bukan serial-serial kaku?

Tampaknya, dalam setiap peringatan maulid, secara tidak sadar kita tengah mengaplikasi mentah-mentah pola muludan yang semula di bangun oleh salah seorang penguasa Irbi, Irak, al-Malik Muzhaffar (549 H.-630H/1233 M) yang menyelenggarakan acara maulid pada setiap bulan Rabiul Awal dengan perayaan yang luar biasa mewah-meriah (untuk perayaan ini, setiap tahun ia menganggarkan dana tidak kurang 300.000 dinar).

Tapi pada waktu yang bersamaan, peringatan maulid ala Sultan Salahuddin al-Ayyubi (saudara ipar al-Malik Muzhaffar), tampak tidak kita jadikan rujukan. Saat itu, al-Sa’id al-Kukburi, tengah berpikir keras, berupaya semaksimal mungkin, bagaimana cara mengobarkan semangat juang pasukannya yang telah meredup.

Kalau itu, tentara muslim tengah tertimpa kekalahan dramatis, mereka berhasil dipukul mundur pasukan salib, sementara tanah palestina telah berhasil di coplok. Al-Ayyubi amat prihatin dengan kondisi mereka. Ia menyadari bahwa umat ini lemah dan tidak berani melawan kekuatan pasukan salib lebih karena mereka telah terjangkit virus wahn (cinta dunia dan takut mati). Penyebabnya, karena mereka mengabaikan salah satu ajaran islam, jihad.

Di sinilah al-Ayyubi melihat tadzkirah (bukan maulid), meneladani semangat juang Rasulullah saw. Melalui pembacaan sejarahnya, sebagai strategi pembakar semangat juang yang cukup efektif. Tujuan intinya adalah mengenalkan kembali perjuangan Rasulullah dalam mengembangkan islam keseluruh dunia. Hasilnya, kaum muslimin saat itu sadar dengan kelemahannya dan mencoba bangkit. Berkobarlah semangat jihat dalam jiwa mereka, dan bumi palestina pun kembali ke pangkuan islam, tentu setelah mereka mempecundangi pasukan salib Eropa.

Dengan memperingati maulid, kita menikmati rahmat-hidayah Allah melalui syafa’at Rasulullah, bahwa cinta mulia itu akan menghiasi sikap dan perilaku kita dengan kesantunan, keramahtamahan, kejujuran dan berbagai tindakan terpuji lainnya. Ia akan membawa kita pada posisi fitrah kehambaan yang sesungguhnya. Jalinan persaudaraan dengan sesama manusia di rekati oleh nilai-nilai luhur kebersamaaan dan persatuan yang utuh (Ummatan wahidah) sebagaimana yang di gariskan Allah; jauh dari persentuhan perselisihan (menganggap bid’ah) dan kebengisan egoisme parsial yang kini sedang melanda ummat manusia di berbagai panggung kehidupan.

Ada pihak di kalangan muslimin yang tidak mengadakan ritual maulid, malah kontra (melarang), di samping ada yang mungkin menganggap “Wajib”, dengan alasannya masing-masing. Yang melarang beralasan ‘khawatir’ terjadinya “kultus individu”, sebuah kekhawatiran yang berlebihan. Seperti kekhawatiran nabrak-nabrak, maka orang dilarang naik sepeda motor.

Menghormati tokoh yang sudah berjasa adalah suatu yang wajar. mungkin cara dan kadarnya yang berbeda-beda. Di kalangan NU cara menghormati  itu demikian “rutin” sehingga menjadi tradisi dengan membaca al-Barzanji dsb. Di samping pengembangan dengan cara-cara lain, ceramah, perlombaan-perlombaan dsb. Orang bisa menilai tradisi merupakan kejumudan,  tetapi ada yang menilai membangun suatu tradisi yang baik adalah suatu prestasi. NU bisa mengemukakan dalil al-Muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah”, memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. Katakanlah “tradisional yang dinamis dan dinamika yang berakar”. Di luar NU, yang dulu enggan bermaulid, sekarang dengan caranya sendiri sudah tidak lagi menabukanya.

Ritual maulid adalah “ibadah muthlaqah” yang tidak ditentukan syarat rukunnya secara ketat. Kita dapat melakukanya dengan longgar dengan memperhatikan lurusnya tujuan, kepantasan, dan menghindari hal-hal yang dapat merusak dan mengurangi keluhuranya.

Tidak ada salahnya kalau kita menyambut kedatangan maulid ini dengan penuh suka cita dan gembira, kita sambut dengan meriah, karena para sahabat semuanya menyambut Rasulullah saat kedatangannya  ke madinah dengan sambutan yang luar biasa. kita dianjurkan merayakan maulid sehebat-hebatnya. Kita berpegang pada pendapat Imam al-Bushiri, “Da’mad da’athu al-Nashara fi nabiyihimi, wah-kum bima syi’ta madhan fihi wahtakimi” (Tinggalkan tuduhan orang-orang nasrani tuduhan yang dilontarkan kepada para Nabi mereka, tetapkanlah untaian puji kepada Nabi, Pujian apapun yang engkau suka). Kita harus mencintai dan memuliakan Rasulullah. Kalau Allah memuliakannya, kenapa kita tidak?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.