Musibah selalu datang menjenguk manusia dan sejarahnya. Takdir kemanusiaan memang berputar antara kebahagiaan dan penderitaan. Kalungan derita tidak mesti menjadi urutan terakhir saat kebahagiaan dan kesenangan telah di cecap. Pun ketika penderitaan dan musibah menjelang dan berjalan, sebersit kebahagiaan belum tentu memberi jawaban yang menutup secara setimpal rasa sakit dan lelah akibat derita yang telah di rasakan.
Empat tahun sudah bencana besar itu berlalu, namun bayang-bayang kesedihan masih segar teringat di pikiran kita. Empat silam emosi kita di kuras oleh pemandangan mengenaskan, ratapan pilu bagi semua orang, ratapan yang merupakan ungkapan kerinduan untuk menghadirkan kembali kekasih hati. Perpisahan yang amat menyengsarakan, meninggalkan kekosongan batin yang tak tergantikan.
Gempa dan itu pula yang memorakporandakan tanah kelahiran kita. Kedahsyatan berkali-kali lipat, kota Banda Aceh hancur lebur oleh tsunami, ratusan ribu orang meregang nyawa. Seolah ini hanyalah sebuah reality show, namun inilah kenyataan yang mau tidak mau harus kita hadapi. Begitu dahsyatnya dampak yang di akibatkan sehingga menyentuh nilai-nilai dasar kemanusiaan. Kepekaan sosial muncul tanpa ada yang di komandoi, solidaritas sosial terbangun secara menakjubkan, bantuan datang berbondong-bondong dari berbagai belahan negara.
Bukan hanya kita rakyat aceh yang menanggung kesedihan itu, tetapi banyak sahabat-sahabat kita, teman-teman kita, tidak pernah henti-hentinya menguras air mata mereka, seakan-akan air mata itu tidak bisa mengering di pipi melihat aceh yang hancur lebur di sapu bersih oleh air bah yang ganas itu. Betapa mulia niat mereka yang selalu ingin membakar semangat anak-anak Aceh untuk terus maju, bangun dari keterpurukan yang telah lalu, untuk menghapus air mata yang terus saja berlinang mengisi hari demi hari.
Gejolak perasaan, nurani, dan kesadaran manusia saat itu larut dalam duka, kepedihan dan keprihatinan mendalam akibat gempa dan tsunami yang membuat mereka hilang arah untuk berjalan dan terhapusnya asa yang membumbung tinggi. Citra dari mayat-mayat yang bergelimpangan yang tidak dapat di hiraukan lagi, ibu-ibu histeris, anak-anak yang kehilangan orang tuanya, orang tua yang putus asa, bayi-bayi yang tersangkut, tubuh-tubuh tersayat, jerit tangis menyayat hati yang ketika itu yang ketika itu sudah menjadi pemandangan yang biasa-biasa saja. Betapa Acehku di banjiri air mata duka lara yang sangat mendalam. Kegetiran hati kian lengkap saat melihat wajah-wajah sedih dan tanpa pengharapan duduk di barak-barak dengan tatapan mata kosong. Mereka adalah warga yang selamat,tetapi telah kehilangan segalanya, orang tua, saudara, teman, anak, dan harta mereka.
Kota banda Aceh saat itu tidak ubahnya dari sebuah kota mati karena jaringan telekomunikasi terputus, jaringan listrik lumpuh, sampah menggunung, bangkai binatang berserakan, dan mayat-mayat manusia masih bertebaran di mana-mana. Masih di tambah “kematian” hati para korban yang selamat, yang terlukis jelas lewat jerit tangis, teriakan histeris, dan wajah muram putus asa.
Allah sedang menguji kita, di mana dulu kontribusi kita pada perjuangan kemerdekaan dan pembentukan Negara Keastuan Republik Indonesia amat besar. Belandapun mengalami kesulitan menaklukkan rakyat Aceh yang berani dengan harga diri yang sangat tinggi.
Namun, setelah merdeka, kegagahan dan kekayaan rakyat Aceh justru hancur oleh pemerintahannya sendiri. Tuhan Maha Kasih dan Maha Mendengar jerit tangis terdalam rakyat Aceh. Tuhan tahu kelelahan dan keputusasaan rakyat Aceh. Rakyat Aceh perlu di pahami, di perhatikan, dan di peluk dengan hangat dan tulus sebagai saudara kandung yang sah dan terhormat dari bangsa Indonesia. Tangisan itu sudah lama di teriakkan, tetapi Jakarta tidak mendengarkan sungguh. Air mata rakyat Aceh telah mengering, sementara penderitaan terus saja berkelanjutan.
Ribuan nyawa melayang oleh peluru yang di muntahkan oleh sesama anak bangsa. Kekhusyukan beribadah dan ketekunan mencari ilmu yang menjadi etos orang Aceh hampir hilang karena tidak adanya stabilitas poiltik, keamanan, dan okonomi. Dan ketika pemerintah pusat maupun daerah bertahun-tahun tidak mampu mengatasi derita mereka, Tuhanpun bertindak dengan cara-Nya sendiri, yang secara lahiriah sulit di pahami karena menggunakan logika paradoksal. Hanya dalam hitungan menit, seluruh skenario yang di buat para politisi berantakan di gilas tsunami yang menawarakan proposal Tuhan untuk kita yang masih hidup. Anak-anak bersama orang tuanya di jemput oleh kereta kencana tsunami untuk di boyong ke syurga, berkumpul dengan para syuhada pejuang kemerdekaan yang lebih dahulu tinggal di sana.
Sementara mereka dan kita yang masih hidup memperoleh tugas mulia untuk merancang skenario baru bagi masa depan Aceh yang damai, makmur, berdaulat, religius, dan berkeadaban. Kita semua merindukan kejayaan Aceh di masa lalu sebagai pusat peradaban untuk di rekonstruksi kembali. Bukankah julukan Serambi Mekkah merupakan kebanggaan, prestasi, dan sekaligus amanah yang harus di jaga dan di pertahankan, bukannya sebagai onggokan meseum warisan masa lalu !!!
Badai pasti berlalu
Kematian menjadi pengalaman menakutkan, tubuh busuk dan hancur menjadi pengalaman mengerikan. Terpisah selamanya menjadi pengalaman menggelisahkan. Seorang filosofi terkenal Schopenhauer mengatakan “we abhor death, an as nature does not lie and the fear of the death is the voice of nature, there must yet be some reason for this”. Kematian adalah kenyataan tak terelakkan, pada saatnya tiap orang akan menghadapi kematian. Dengan demikian kita dapat merenungkan kematian saudara-saudara kita sebagai sebuah pesan. Kematian dalam kehidupan, itulah pesan yang harus di pegang.
Musibah tsunami ini tidak saja menawarkan proposal baru bagi warga Aceh, tetapi juga bangsa Indonesia. Dari aceh kembali muncul panggilan dan derap kemanusiaan sebagaimana pernah mereka kumandangkan dengan berani oleh para syuhada Aceh abad lalu, yang membuat tentara Belanda bergetar dan lari pontang-panting. Kini panggilan perjuangan para pahlawan itu di teriakkan kembali melalui amukan dahsyat itu, saat kita tidak bisa lagi mendengar dengan bahasa yang halus, bahasa nurani. Bangsa ini telah terbius oleh gemerlap materi dan kesenangan sesaat. Banyak di antara kita ramai-ramai berebut jabatan dan popularitas, dengan melupakan panggilan Allah, kemanusiaan dan perdamaian. Semoga damailah para syuhada Aceh. Kita selalu berharap agar politisi, pejabat negara dan semua elemen masyarakat mampu membaca, melihat, dan mendengar dengan hati bening akan surat cinta Tuhan yang tertulis dengan bahasa kemarahan alam agar kita menjadi arif, rendah hati, dan selalu sujud pada-Nya, bukan pada ego pribadi yang di proyeksikan dalam bentuk kerakusan dan ketamakan.
Ya Allah Tuhan semesta alam, dalam genggaman-Mu hidup dan masa depan kami, bahkan seluruh alam semesta ini. Hanya dengan memerintahkan sebagian kecil dari laut-Mu untuk bertandang ke daratan, sungguh tak kuasa kami menahannya dan betapa tak berdayanya kami menghadapinya. Di balik kesombongan kami, betapa sesungguhnya lemah dan rapuhnya kami. Andaikan separuh air laut Engkau tumpahakan, andaikan separuh gunung yang ada di nusantara Engkau perintahkan meletus, andaikan sebutir planet Engkau instruksikan jatuh ke bumi, andaikan suhu panas matahari Engkau lipat gandakan, bahkan jika Engkau perintahkan langit-Mu menghujam ke bumi, kami tidak akan pernah kuasa mencegah-Mu karena semua ini hanyalah milik-Mu.
Ya Allah, berilah kami kekuatan untuk menerima ujian-Mu, anugerahkanlah kami kebijakan dan kelapangan untuk bisa menerima pelajaran dari-Mu. Karena dengan demikian kami akan bisa menata kembali bumi Aceh ini untuk terus berjaya layaknya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Sinarilah hati dan pikiran kami dengan cahaya kasih-Mu agar kami mampu menjalani hidup dengan penuh harap dan senantiasa cinta perdamaian.
E-mail : ifan_thebest@yahoo.co.id